Kebutuhan CPNS 2011 Penyuluh Agama Diperkirakan Lebih Banyak

By gladwin | May 22, 2011
WhatsAppShare
HOT INFO !
Ujian CPNS akan dilaksanakan dengan sistem Computer Assisted Test (CAT).
Latihan Ujian CAT CPNS Wajib dipelajari untuk persiapan TES CPNS nanti.
Dapatkan Kisi Kisi Soal CAT CPNS, Info lengkap silakan --->> Klik Disini

Kementerian Agama (Kemenag) sedang menggodok komposisi penyuluh agama dalam pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun ini. Penyuluh agama yang paling dominan perannya adalah penyuluh agama Islam. Diharapkan, para penyuluh itu bisa menangkal gejolak keberagamaan di tingkat masyarakat.

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Nasaruddin Umar saat dihubungi kemarin (21/5) di Jakarta mengatakan belum bisa memastikan jumlah tenaga penyuluh agama Islam baru. “Kebutuhannya masih digodok di Kemenag,” tandasnya. Selanjutnya, usulan tersebut baru dibawa ke Ditjen Bimas Islam Kemenag. Hingga saat ini, penyuluh juga masih ada yang berstatus honorer yang menunggu pengangkatan.

Mantan pembantu rektor Bidang Kemahasiswaan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu menerangkan, para penyuluh wajib memegang visi menjadi dinamisator pembangunan dan pemersatu umat. Apalagi, saat ini kondisi keberagamaan di masyarakat sedikit goncang dengan isu radikalisme yang merebak.

Isu radikalisme yang cukup meresahkan masyarakat saat ini adalah tentang gerakan kaderisasi Negara Islam Indonesia (NII) dan aksi terorisme berkedok jihad. Nasaruddin menuturkan, peran penyuluh diharapkan bisa profesional menjaga masyarakat dari benih-benih penyimpangan berkedok agama. “Masyarakat bisa kondusif jika bisa dideteksi sejak dini,” tandasnya.

Ratusan penyuluh yang berada mulai di tingkat kantor wilayah (kawil) provinsi hingga kabupaten tutur Nasaruddin, secara berkala mendapatkan pelatihan dan pengembangan kapasitas. Diantara pembekalan utama yang diberikan secara berkala adalah, kemampuan bermasyarakat dengan pendekatan multikultural. “Pendekatan kemajemukan ini penting. Mengingat masyarakatnya juga majemuk,” tutur Nasruddin.

Diharapkan, dengan pembekalan pendekatan multikultural tersebut, bisa mencegah terjadinya provokasi. Baik antara umat Islam maupun dengan umat beragama lainnya. Dalam teknis penyuluhannya, diserahkan ke masing-masing individu. Bisa mulai ceramah di mimbar besar atau melalui forum-forum diskusi kecil yang digelar rutin di masyarakat.

Kemampuan yang bakal digenjok kepada seluruh penyuluh adalah, keahlian menyusun rencana penyuluhan, pelaporan ke tingkat daerah atau pusat. Dan melakukan pengawasan terhadap masyrakat yang menjadi wilayah penyuluhannya. “Ketiga aspek itu penting,” ungkap Nasaruddin. Tidak bisa setelah diberi penyuluhan lalu dibiarkan berjalan sendiri tanpa diawasi. (wan)-jpnn

WhatsAppShare