Info Diskusi Karut Marut Rekrutmen CPNS di Sulsel (2-Selesai)

By gladwin | December 8, 2010
WhatsAppShare
BERITA PENTING !
Ujian CPNS akan dilaksanakan dengan sistem Computer Assisted Test (CAT).
Latihan Ujian CAT CPNS Wajib dipelajari untuk persiapan TES CPNS nanti.
Ikuti Tryout CAT CPNS 2017, Info lengkap silakan -->> Klik Disini

Saatnya Hentikan Rekrutmen Pegawai Massal

Selalu ada riak di penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Haruskah ada formulasi baru?

Diskusi yang digelar di Studio Mini Redaksi Harian FAJAR, Senin, 6 Desember, tak memberikan jaminan bahwa ke depan seleksi CPNS akan bebas dari karut marut. Tapi, setidaknya diskusi ini telah melahirkan sejumlah gagasan. Termasuk soal model seleksi yang ideal dan diyakini bisa menghasilkan pamong berkualitas.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Makassar, Sittiara sudah menegaskan akan melakukan seleksi secara transparan dan tanpa kecurangan. Ia pun menjanjikan membuka skor hasil tes kepada masyrakat.

“Siapa saja yang mau lihat skor silakan ke kami atau ke Unhas dan UNM,” katanya memberi jaminan pada para pelamar. Kepala Pusat Kajian, Pendidikan, dan Pelatihan Aparatur II (PKP2A II) Lembaga Administrasi Negara (LAN), Dr Muhammad Idris, MEd juga berharap bisa menghilangkan bayang-bayang kecurangan masa lalu lewat seleksi dan pembuatan soal berkualitas.

Menurut dia, LAN yang kini membuat soal untuk Sulbar melakukan pembaruan. LAN yang membuat dan memeriksa LJK sampai penyusunan peringkat, memberi jaminan tahun ini soal mereka kualitasnya semakin baik.

“Tahun ini kami membuat 60 jenis soal untuk masing-masing kompetensi. Soal terdiri atas tipe. Selama ini soal untuk dokter sama dengan guru SD. Ini petaka. Satu soal untuk semua, apa yang bisa didapatkan dari pencari kerja? Harus jelas kompetensinya. Harus jelas pengetahuan dasar. Semakin bervariasi soal akan semakin baik,” jelasnya.

Menurut Idris, guru matematika harus bersaing dengan sesama guru matematika. Tidak seperti selama ini para pendaftar harus bersaing dengan guru bidang studi lain. “Kita hanya ingin memperbaiki saringan masuk,” katanya.

Ini dilakukan LAN, kata Idris, untuk membuat kompetensi CPNS lebih bagus. Makanya sejak awal LAN menegaskan tidak boleh ada intervensi. Kalau tidak ada komitmen, mereka tidak mau bekerja sama. Tak heran beberapa daerah akhirnya batal bekerja sama dengan LAN karena persoalan komitmen.

“Kita ingin seleksi orang terbaik dalam pasaran kerja. Kita tidak mau birokrasi diisi orang kelas IV. (PNS) Singapura hebat, sebab mereka orang terbaik di sekolah. Mereka diseleksi sejak awal. Gajinya juga tinggi. Kalau kita, soal dokter disamakan guru olahraga. Soal kelautan disamakan perawat.

Bagaimana bisa mendapatkan kompetensi yang baik? Tes kemampuan bidang atau bakat penting,” tegasnya panjang lebar. Masalahnya, kata dia, banyak daerah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. “Makanya hanya membuat satu jenis soal saja,” katanya.

Tak hanya mekanisme seleksi yang diharapkan makin baik. Dalam diskusi juga muncul pemikiran untuk mempertimbangkan ulang seleksi CPNS secara massal yang sudah menjadi rutinitas tahunan pemerintah.

“Sudahlah, hentikan model penerimaan PNS massal. Setiap tahun di bulan Oktober hingga Desember sudah berdetak jantung BKD. Sebab sudah turun formasi. Mulai ada tekanan politik. Muncul tekanan termasuk dari masyarakat,” ujarnya.

“Kami dari LAN sudah lama mimpikan ini. Kalau misalnya Dinas Kesehatan butuh pegawai, izinkan seleksi sendiri. Pemkot melalui BKD misalnya, hanya memfasilitasi dan validasi serta memastikan tidak ada kecurangan. Jadi kalau ada yang meninggal, bulan itu juga didapatkan pengganti. Kita selama ini masih massal, makanya risiko itu juga muncul bersamaan,” imbuhnya.

Bagi Idris, jumlah PNS tak perlu ditambah lagi. Sebab, 2003 silam, jumlahnya secara nasional hanya 3,5 juta. Naik 1,3 juta hingga saat ini menjadi 4,8 juta pegawai. Itu belum termasuk honorer. “Bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan. PNS juga kadang tidak jelas kerjanya namun bertambah terus. Jadi, hentikan dulu penerimaan pegawai sampai lima tahun ke depan,” sarannya.

Soal adanya pegawai yang tidak jelas kerjanya, juga sempat dilontarkan peserta diskusi bernama Mukhtar W. Pensiunan Departemen Agama ini menggunakan istilah 702 untuk pegawai tersebut. Artinya, datang ke kantor pukul 07.00 dan pulang pukul 14.00. Untuk angka kosongnya, itu kata dia, berarti tidak ada yang dikerjakan.

Guru Besar Administrasi Publik Unhas, Prof Sadly AD juga memberi perumpamaan lewat angka-angka untuk mengkritik banyaknya PNS yang tidak jelas pekerjaannya di kantor.

“Kalau dulu 702, sekarang 804. Masuk jam 08.00 pulang jam empat. Tapi apa betul pegawai yang masuk jam 8 dan pulang jam 4 itu bekerja terus seperti di bank? Pertanyaannya, di mana pembagian tugasnya sehingga banyak waktu terbuang,” kritiknya.

Makanya, lanjut Sadly, muncul pertanyaan, apakah perlu setiap tahun dilaksanakan rekrutmen. “Realistis saja, masuk ke kantor-kantor, apa betul ada ada pekerjaan. Kita ingin semua baik. Kalau ke bank, mereka masuk sebelum jam 8 dan tidak keluar sebelum waktu pulang atau istirahat. Mereka tahu apa yang dikerjakan. Moral mereka bagus. Kalau PNS, sudah disumpah apalagi pejabat, tapi dalam praktik, hampir tidak pernah dipakai,” katanya.

Ia juga senada dengan Idris soal tidak perlunya penerimaan massal. Menurut dia, kalau dalam satu kantor ada yang pensiun atau meninggal, langsung bisa direkrut penggantinya. “Untuk apa kita menerima CPNS setiap tahun?” katanya.

Sittiara juga mengapresiasi usulan ini. Hanya saja menurut dia, ini bisa dikatakan perlu, juga tidak. Khusus guru, kata dia, kalau tidak ada penerimaan, pemerintah akan kesulitan. Sebab setiap tahun dilepas 500 orang pensiunan . Kalau tidak ada penerimaan CPNS, menurut dia, guru bisa habis.

“Sistem yang ditawarkan bagus. Tapi pengambil keputusan ada di pusat. Kami di pemkot mengarah ke situ. Misalnya, acuan kami meminta formasi sesuai analisis. Kami tidak selalu meminta tenaga teknis, tapi guru dan kesehatan. Kami selektif meminta formasi,” katanya. (amiruddin@fajar.co.id)

WhatsAppShare