Diskusi Carut Marut CPNS Makassar 2010

By gladwin | December 7, 2010
WhatsAppShare
BERITA PENTING !
Ujian CPNS akan dilaksanakan dengan sistem Computer Assisted Test (CAT).
Latihan Ujian CAT CPNS Wajib dipelajari untuk persiapan TES CPNS nanti.
Ikuti Tryout CAT CPNS 2017, Info lengkap silakan -->> Klik Disini

Jadi pegawai negeri sipil (PNS) masih menjadi primadona. Ribuan orang rela antre hanya sekadar ikut seleksi. Mengapa begitu?

Akar masalahnya sangat lumrah. Setiap tahun selalu ada PNS yang berhenti. Baik karena sudah memasuki usia pensiun, meninggal dunia, mundur, atau pindah tugas ke daerah lain. Atau, ada juga karena penambahan pos tertentu.

Seiring dengan proses penggantian PNS yang berhenti atau adanya penambahan pos baru, rekrutmen pengisinya (baca CPNS; calon pegawai negeri sipil) selalu meninggalkan cerita. Dan, lumayan asyik membahasnya.

Terbukti, dalam diskusi membahas karut-marut rekrutmen CPNS di Sulsel yang berlangsung di studio mini redaksi FAJAR, Senin 6 Desember, berbagai elemen masyarakat ikut bergabung. Mukhtar W, seorang pensiunan PNS Kementerian Agama sejak 12 tahun lalu, salah satu contohnya.

Bicara CPNS, Mukhtar mengaku selalu tertarik. Bukan lantaran dia adalah pensiunan, tapi proses menjadi PNS yang menurutnya terkadang menyimpang dari ajaran agama. “Jadi, memang harus dipikirkan bagaimana memperbaiki moral, baik sebagai pelaksana ujian maupun peserta,” katanya usai merampungkan pertanyaannya dalam diskusi kemarin.

Mukhtar sempat mengutip satu ayat yang intinya soal penyerahan sesuatu kepada yang bukan ahlinya akan menimbulkan kehancuran. Ia merilis ayat tersebut sebagai analogi bahwa yang lulus CPNS harus betul-betul yang berkualitas.

Baharuddin S, peserta lainnya tampak sangat bersemangat mengikuti diskusi. Bahkan saat Asisten Kompartemen Harian FAJAR, Muhammad Ilham menyampaikan bahwa sisa satu kesempatan untuk bertanya, ia langsung berdiri dan menyambar mik. “Karut marut ini memang trauma masa lalu,” tegasnya.

Tapi, semua itu ditepis Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Makassar, Sittiara. Menurutnya, tidak ada karut marut dalam rekrutmen CPNS. Ia mengatakan, ribut-ribut seleksi CPNS hanya soal tidak berimbangnya formasi dengan yang mendaftar.

“Ini soal formasi jauh lebih sedikit. Jadi antara yang ingin mendaftar dan tak terakomodasi jauh lebih banyak dari yang diterima,” kata Sittiara.

Guru Besar Administrasi Publik Unhas, Prof Sadly, AD, yang juga tampil sebagai pembicara, sepaham dengan Sittiara. Menurutnya, tidak ada karut marut dalam seleksi CPNS. Semuanya, kata Sadly, berlangsung sangat lumrah. Sesuatu yang berproses biasa.

Hanya, katanya, dalam prosesnya selalu ada kelemahan. Seyogianya, imbuh Sadly, kelemahan itulah yang harus diperbaiki agar kualitasnya makin bagus.

“Rekrutmen dilakukan karena ada tuntutan pengisian pegawai. Misalnya ada yang lowong, mungkin meninggal atau pensiun. Atau mungkin juga karena ada pembukaan unit baru dan perpindahan,” katanya.

Kepala Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur II (PKP2A II) Lembaga Administras Negara (LAN), Dr Muhammad Idris, MEd juga menilai tidak ada istilah karut marut dalam rekrutmen CPNS.
“Ini hanya soal ketidakpercayaan masyarakat. Ekspektasi masyarakat selalu berbanding terbalik dengan pemerintah. Mereka ingin ideal. Tapi nyatanya belum bisa diimbangi dengan infrastruktur terbaik dalam proses perekrutan,” katanya.

Titip Kartu Tes

Apapun alasan BKD Makassar dan pembelaan yang muncul, fakta bahwa masih muncul karut marut dalam seleksi CPNS di daerah ini, bukan isapan jempol belaka. Setiap tahun, selalu muncul protes yang menyusul pengumuman CPNS.

Ada saja pihak-pihak yang tak puas dan merasa dirugikan bahkan dikorbankan. Termasuk karena munculnya fakta soal kecurangan dalam proses seleksi dan adanya peserta titipan. Baik dari kalangan pejabat ataupun politikus.

Hal itu diakui sendiri Sittiara. Menurutnya, setiap musim rekrutmen CPNS, selalu saja ada pihak yang menitipkan nomor tes anak, kerabat atau kenalannya. Harapannya satu, minta dibantu agar pemilik nomor tes tersebut dapat lulus.

Dan itu, ungkap Sittiara, tidak hanya menimpa dirinya. Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, juga ikut dititipi nomor tes.
“Wali kota juga tiap tahun dapat titipan. Biasanya saya dipanggil. Tapi kita bacakan Alfatihah saja. Tapi sering juga ada yang lulus tanpa dibantu,” beber Ira, panggilan akrabnya.

Dia menjamin bahwa meski dalam kapasitas sebagai kepala BKD, dirinya sama sekali tidak bisa membantu. Bahkan untuk keluarga pejabat sekalipun. “Saya tidak bisa bantu. Saya sampaikan belajar saja dengan baik. Kami panitia akan memberi yang terbaik. Ini persoalan komitmen dan moral,” tegasnya.

Atas fenomena titip-menitip nomor tes tersebut, Muhammad Idris mengatakan bahwa hal itu tidak bias dijadikan sebagai alat untuk menjustifikasi bahwa keluarga pejabat yang lolos jadi CPNS karena adanya campur tangan. Menurut dia, dari segi fasilitas dan kesempatan, keluarga pejabat memang punya peluang yang lebih besar.

“Jangan anak sekda lulus lantas dicurigai. Mereka punya fasilitas untuk belajar lebih baik dari anak petani. Jadi sebenarnya wajar kalau bisa lulus,” katanya. Ref : amiruddin@fajar.co.id

WhatsAppShare