BUMN dan Swasta Siap Memproduksi Converter Kit Untuk Mendukung Konversi BBM

By gladwin | January 13, 2012
WhatsAppShare
BERITA PENTING !
Ujian CPNS akan dilaksanakan dengan sistem Computer Assisted Test (CAT).
Latihan Ujian CAT CPNS Wajib dipelajari untuk persiapan TES CPNS nanti.
Ikuti Tryout CAT CPNS 2017, Info lengkap silakan -->> Klik Disini

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung program konversi bahan bakar minyak (BBM) dengan cara memproduksi converter kit atau alat konversi ke bahan bakar gas (BBG) buatan lokal.

Beberapa BUMN bersama perusahaan swasta mampu memproduksinya, sehingga tidak perlu impor converter kit. Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, sejumlah perusahaan BUMN dan delapan perusahaan swasta telah menyatakan kesanggupannya membuat converter kit. ”Jadi, tidak perlu impor karena kita mampu memproduksi,” kata dia di Bandung kemarin. Kementerian BUMN mendukung program konversi BBM karena lebih bersih dan murah.

Beberapa perusahaan pelat merah yang siap membantu produksi converter kit adalah PT Dirgantara Indonesia (PT DI), PT Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra, PT Dok Perkapalan Surabaya, PT Inti, PT Krakatau Steel, PT Pindad, dan PT Inka. Sejumlah BUMN ini akan dibantu oleh delapan perusahaan swasta. Dahlan juga membuka kesempatan bagi perusahaan swasta lain yang ingin berpartisipasi. Dia mengatakan, produksi converter kitbisa dimulai tahun ini dengan target produksi sekitar 300.000 unit.

Selanjutnya, tahun berikutnya bisa ditingkatkan menjadi 1 juta unit dan seterusnya akan bertambah. Untuk infrastrukturnya, Dahlan mengatakan akan segera berdiskusi dengan PT Pertamina. Diketahui, rencana pemerintah menjalankan program konversi BBM ke BBG merupakan bagian dari kebijakan pembatasan konsumsi BBM jenis premium mulai 1 April mendatang.Namun,konversi BBG tersebut masih terkendala oleh kurangnya fasilitas yang ada. Untuk konversi BBM ke BBG masih sulit, terlebih stasiun pengisian bahan bakar yang ada masih sangat kurang.

”Diharapkan, kendala tersebut bisa segera diatasi oleh pemerintah,” kata Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor Sudirman Maman Rusdi di Kementerian Perindustrian, Jakarta, kemarin. Saat ini, untuk wilayah Jakarta hanya ada 10 stasiun pengisian bahan bakar (SPBG) dan akan ditambah menjadi 19 lokasi.Kendala lain adalah mahalnya harga alat konversi BBM ke BBG yang berkisar Rp10–15 juta per buah. Peneliti Departemen Ekonomi Central for Strategic and International Studies (CSIS) Deny Friawan mengatakan, pihaknya menyambut baik pembatasan BBM.

Namun, dia menyayangkan persiapan yang minim dilakukan pemerintah. Padahal, rencana untuk pembatasan konsumsi BBM bersubsidi sudah digulirkan sejak satu tahun lalu. Ref:jerna/sandra karina/wisnoe moerti/sindo

WhatsAppShare